Kamis, 24 Maret 2016

HIO , HIO LO / SWAN LO DALAM TRADISI TIONGHOA


Hio sebenarnya adalah medium untuk melakukan sembahyang / bagian dari peralatan sembahyang, tidak mempunyai arti khusus dan makna khusus didalamnya. Hio itu sebuah tradisi sebagaimana bunga di barat sana. Hio digunakan karena asapnya membumbung tinggi ke atas dan disimbolkan sebagai salah satu pendekatan dengan dewa-dewi di atas sana. Lalu beberapa macam hio juga wangi dan dapat bemakna sebagai penyucian batin dan lingkungan. Ada banyak orang bertanya2, kalau pindah agama boleh ga pegang hio? Yah, gak masalah karena tidak ada kaitannya dengan agama apapun kok. Itu hanya tradisi saja. Bandingkan tradisi menghormati dengan bunga di negara eropa dengan tradisi menghormati memakai hio di Tiongkok? Jangan berpikiran sempit. Saya masih sering bingung kalau masih banyak yang merasa tradisi diadopsi oleh sebuah agama, lalu jadilah tradisi itu haram bagi agama lain.


Dupa atau sering di sebut Hsiang (Mandarin) atau Hio (Hokkian) adalah salah satu unsur yang eksis dalam kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun. Dupa digunakan dalam acara penghormatan kepada leluhur dan acara ritual keagamaan beberapa agama yang ada di Tiongkok. Asal usul dupa pertama kali sebenarnya bukanlah langsung digunakan untuk penyembahan atau penghormatan. Dupa masuk bersamaan dengan masuknya agama Buddha ke Tiongkok. Dikatakan bahwa sewaktu Buddha Sakyamuni menyebarkan ajarannya kepada para pengikut, karena cuaca yang panas, kebanyakan murid tak dapat berkonsentrasi, merasa mengantuk dalam mendengarkan wenjangan dari Buddha Sakyamuni. Maka untuk mengatasi hal ini, orang-orang kemudian membakar kayu harum dan wangi untuk mengharumkan udara dan meningkatkan konsentrasi. Kemudian tradisi ini menjadi kebiasaan dalam agama Buddha dan terbawa ke Tiongkok dalam penyebarannya.
   

Dupa kemudian diadopsi oleh agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan lain yang telah lama ada di Tiongkok sebelum agama Buddha masuk. Sehingga dupa menjadi sebuah alat dalam ritual dan tradisi kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun, baik dalam menghormati leluhur, menghormati dewa-dewi dalam agama-agama tertentu di Tiongkok dan juga tentunya oleh penganut agama Buddha sendiri.Seiring dengan imigrasi ke Asia Tenggara, terutama ke Indonesia, berpengaruh pada Agama sebagian besar penduduk di Indonesia. Baik  Kerajaan Hindu Majapahit maupun Kerajaan Buddha Sriwijaya  yang berkuasa mempunyai pengaruh besar di daerah Jawa – Bali.


Konon, Dupa di Bali berasal dari sabut kelapa yang dipilin-pilin menjadi tali lalu ditusuk dengan kayu/bambu seperti Sate/cilok. Mungkin karena sering mati dan asapnya terlau banyak,lambat laun bahan dupa diganti serbuk kayu seperti saat ini. Biasanya orang menamakannya dengan HIO/ DUPA. Dupa adalah suatu material yang mengeluarkan bau asap yang wangi. Fungsi dupa adalah sebagai alat upacara keagamaan umat Hindu, Budha, Konghucu dll. Bentuk Dupa ada berbagai macam seperti: Bentuk Batang dari ukuran 11cm s/d 42cm, magic stick, bentuk kerucut, spiral, bentuk hewan,dll.

Tata Cara Dan Makna Jumlah Batang Hio Sembahyang


Hio artinya harum. Yang dimaksudkan disini ialah dupa, yaitu bahan pembakar yang dapat mengeluarkan asap yang berbau sedap/harum. Dupa yang dikenal pada jaman Nabi Khongcu berwujud bubuk atau belahan kayu.
  

Membakar dupa mengandung makna Jalan Suci itu berasal dari kesatuan hatiku ( Too Yu Siem Hap ), hatiku di bawa melalui keharuman dupa ( Siem Ka Hiang Thwan ). Selain itu dupa juga untuk Menentramkan pikiran, memudahkan konsentrasi, meditasi.Pendek kata mitologi dupa ialah untuk menyampaikan/mengirimkan doa kita melalui wewangian/asap yang terus menjunjung tinggi hingga ke segala arah.
Tata cara sembayang rakyat jelata alias minjian xinyang, secara umum sih sembayang dibagi 3 tata cara, yaitu cara Buddha Mahayana, Kong Hu Cu sama Tao. Semuanya menggunakan satu atau tiga batang hio.

Susunan meja sembayang secara umum :
Teh, air putih , arak ( ciri Tao , Kong Hu Cu ), lambang Taiji Yinyang, air putih lambang taichi, teh lambang yin, arak lambang yang . Lima macam buah atau lima warna lambang lima unsur. Kalau agama Buddha , ada yang kaitkan sama 5 Dhyani Buddha.
Tiga batang hio lambang San Cai / Sanguan / Taiji Liangyi, Triratna, Sanqing.
Satu batang hio lambang Taiyi, Dao.


Cara penghormatan :
Kepalan yg membentuk delapan kebajikan dan orang tua /cara KHC.
Kepalan yg membentuk bola Taiji / menggenggam Taiji / cara Tao.
Anjali atau merangkapkan kedua telapak tangan/ cara Buddha.


Tiga arti Pai.
Pai pertama membalas jasa Langit dan Bumi / yi bai baoda tiandi en
Pai kedua membalas jasa orang tua /er /zhai bai baodao fumu en
Pai ketiga membalas jasa para guru /san bai baodao enshi en
Tambahan menurut Xuan Tong :
   

Secara umum, jumlah hio ganjil adalah untuk Dewa, Tuhan, tokoh yang berjasa untuk masyarakat luas dan mahluk suci lainnya. Ganjil dalam metaphysic Tiongkok adalah lambang dari unsur Yang atau positif. Yang berjumlah genap adalah untuk leluhur, arwah yang meninggal, setan gentayangan.
   

Ketika melangkah masuk ruang sembahyang juga harus kaki kiri dahulu yang maknanya adalah kita harus mengutamakan sifat-sifat kebajikan kita. Menancapkan hio dengan tangan kiri juga artinya kita akan selalu menancapkan kebajikan di alam langit dan alam bumi.
   

Tapi dalam masyrakat awam timbul keyakinan bahwa melangkah dengan kaki kiri akan membuat rejeki melimpah dan jika dimulai dengan langkah kaki kanan adalah mengacaukan tatanan alam semesta dan mengundang bencana.Tentunya hal ini adalah salah kaprah kecuali 1 hal yaitu melangkah dengan kaki kanan, yang mana adalah mengutamakan keburukan tentunya mengubah atau mengacaukan tatanan alam semesta.
  

 Pada umumnya kita sembahyang mengunakan 1 atau 3 batang hio .. tapi sebenarnya ada makna untuk berapa batang hio kita pakai..dari untuk yang seharian sampai yang digunakan pada keadaan terdesak/ khusus.

1 Batang Hio biasanya Kauw Siu Thao, Para Dewa-Dewi di rumah untuk hari biasa kecuali Ce It dan Cap Go setiap bulannya.
3 Batang Hio umum buat Pai Thien ( Ti kong ), Para Dewa-Dewi dll.
5 Batang Hio biasanya untuk usaha /dagang ( khusus untuk Dewa Hok Tek Ceng Sin dan Dewa Cai Sen lainnya )
6 Batang Hio biasanya untuk keperluan orang lain
7 Batang Hio biasanya untuk mohon khusus dan juga untuk sesuatu hal membalikan kepada orang lain.
8 Batang Hio biasanya dalam hal ini bila kesusahan2/kesialan2 terus menerus menimpa.
9 Batang Hio pujian2 untuk semua makhluk-makhluk dan Dewa-Dewi ( Paling bagus kalau sembhyang jam 9 malam di rumah ).
12 Batang Hio agar semua makluk dapat kebahagiaan
36 Batang Hio kesuksesan dan keharmonisan
108 Batang Hio bila terdesak oleh keadaan atau ada permintaan khusus sekali.


Mohon sedikit perhatian :

- Usahakan saat menancapkan hio...usahakan berjejer seperti kipas.
Tancaplah hio dengan hormat..jangan sembarangan.
- Khusus untuk 7 batang hio hanya digunakan bila terpaksa saja(keadaan terdesak)
- Khusus menggunakan 108 batang hio merah untuk sembahynag kepada THIEN ( Tuhan ) tepat jam 12 malam...Lalu sampaikan permintaan / permohonan anda. Minta ? Berdoa harus dengan hati yang tulus pada Thien ( Tuhan ) Setiap habis sembahyang, bakar Toa Kim 1 kunci, tulis nama, umur, shio dan alamat permohonan lalu dibakar di tempat yang bersih. Lakukanlah 3 malam berturut-turut.


-Hio warna merah khusus mohon sesuatu
-Hio warna kuning untuk sembayang biasa.
-Hio warna hijau biasanya untuk orang meninggal
   

Umumnya dalam Tao, Lima batang hio melambangkan lima arah. Tujuh batang melambangkan tujuh bintang utara. Dan duabelas batang melambangkan duabelas satuan waktu bumi. Ini semua berkaitan dengan ritual mereka yang ditujukan untuk kasus-kasus spesifik. Tapi dimasyarakat beredar pandangan bahwa duabelas batang hio untuk permintaan kepada Tian dan harus dilakukan jam 12 malam karena saat itu suasana hening dan sebagainya. Jam 12 malam dilakukan sembahyang atau meditasi ini berkaitan dengan pergantian qi alam semesta, dimana saat itulah unsur Yang menguat dan unsur Yin melemah dan dalam satuan pengertian zi di 12 cabang bumi adalah mulainya sesuatu yang baru. Artinya adalah berkaitan dengan perubahan waktu.
   
  
Cara Membuat Dupa
Alat untuk membuat Dupa antara lain: Timbangan, ember pengaduk,ember pencelup, alat pengaduk.

Bahan-bahan untuk membuat dupa : Damar, Cendana, Parfum, Potasium, Perekat, Serbuk

Cara membuat Dupa:  Campur semua bahan kecuali potasium dan perekat, haluskan sampai merata/ digiling  setelah itu masukkan potasium aduk rata dan campur dengan bahan perekat aduk sampai adonan benar-benar halus. Tuang dalam wadah pencelup siapkan lidi dan dicelup lalu dipilin. Terakhir di keringkan dengan diangin-anginkan.
Mudah mudahan artikel ini berguna dan bermanfaat bagi kita semuanya, semoga semua selalu sehat, selamat, sejahtera dan bahagia bersama keluarga.

Hio Lo / Swan Lo

Hio Lo adalah tempat menancapkan hio untuk diletakan diatas altar, sebagai tanda mengAgungkan para suciwan atau leluhur yang dipuja. Swan Lo adalah tempat membakar dupa perahu, tumpeng, kerucut, ataupun bubuk cendana/gaharu sebagai bentuk penghormatan kepada para sien beng/leluhur yang dipuja, selain itu juga dilambangkan sebagai lambang keharuman Dhamma. Biasanya Hio Lo/Swan Lo terbuat dari tembaga , kuningan , keramik.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar