Sabtu, 16 April 2016

Resensi Film Cin(T)a



Cina (Sunny Soon), adalah mahasiswa baru yang belum pernah mengalami kegagalan dalam hidup, sehingga dia yakin bisa mewujudkan impiannya hanya dengan modal iman.

Annisa (Saira Jihan), mahasiswi tingkat akhir yang kuliahnya terhambat karena karirnya di dunia film. Popularitas dan kecantikan membuatnya kesepian, sehingga ia bersahabat denga jarinya sendiri yang selalu digambari bermuka sedih. Sampai suatu hari datang ‘jari’ lain yang menemani.
(T), karakter yang paling tidak bisa ditebak. Setiap orang merasa mengenal-Nya. Setiap karya seni mencoba untuk menggambarkan-Nya, tapi tidak ada yang benar-benar mampu menggambarkan-Nya. (T), mencintai Cina dan Annisa, tapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai karena mereka memanggil (T) dengan nama yang berbeda.

Cina baru masuk menjadi mahasiswa baru di Jurusan Arsitektur, Institut Tekhnologi Bandung. Di sanalah pertama kalinya dia bertemu dengan Annisa, mahasiswa tingkat akhir yang kuliahnya terhambat karena karirnya sebagai bintang film dan masalah keluarganya. Awalnya, Cina tidak menaruh perhatian pada Annisa, meskipun teman-temannya kerap membicarakan Annisa yang notabennya seorang artis. Karena, menurut Cina, berdasarkan Hukum Newton I, kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran. IPK Annisa yang hanya 2,1 membenarkan hukum newton I versi Cina tersebut.

Cina, adalah orang Batak keturunan tionghoa, yang beragama Kristen dan taat beribadah. Cita-citanya ingin menjadi gubernur Tapanuli jika Tapanuli sudah menjadi sebuah provinsi. Sedangkan Annisa, adalah muslim keturunan Jawa. Dia juga seorang bintang film yang rajin beribadah.
Sebelum dekat, keduanya menghadapi problematika hidupnya masing-masing. Cina, meskipun keturunan Tionghoa, namun kehidupan ekonomi keluarganya pas-pasan. Itu sebabnya dia bekerja paruh waktu dan berusaha mencari beasiswa untuk meringankan biaya kuliahnya.
Sedangkan Annisa, seorang bintang film yang kesepian karena popularitas dan kecantikannya. Di tambah prestasinya yang buruk di perkuliahan, yang membuatnya di pergunjingkan. Itu sebabnya dia bersahabat dengan telunjuk jarinya sendiri yang digambari wajah sedih. Tugas Akhirnya pun terhambat.

Pertemuan yang intens, membuat Cina dan Annisa semakin dekat. Karena perbedaan yang ada di antara mereka, terjadilah dialog cinta yang banyak menggugat banyak perkara tentang cinta, Tuhan, agama, dan kehidupan nyata. Salah satunya terlihat pada dialog antara Cina dan Annisa mengenai siapa pendamping mereka kelak. Annisa yang sudah dijodohkan Ibunya dengan seorang keturunan beragama Islam. Sedangkan Cina ingin istrinya kelak mencintai Tuhannya lebih dari dirinya.
Banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang muncul di antara mereka, tapi tak pernah ada konflik, seperti pertanyaan “Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalau Allah cuma ingin di sembah dengan satu cara?” yang di lontarkan Annisa.

Pada tahun itu, perayaan Idul Fitri dan Hari Natal berdekatan. Cina pun membantu Annisa membuat ketupat, sebaliknya Annisa juga membantu Cina menghias pohon natal.
Rasa emosi di antara keduanya kemudian muncul ketika Cina dan Annisa memperdebatkan masalah pengeboman gereja-gereja di Indonesia pada Hari Natal. Cina memutuskan untuk mengambil beasiswanya ke Singapura yang belum di ambilnya karena dia mengambil kuliah di ITB. Cina merasa kehadirannya sebagai orang Kristen tidak akan diterima di Indonesia apalagi bila dia mewujudkan mimpinya menjadi gubernur, karena dia menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia adalah muslim. Sedangkan Annisa, akhirnya menerima perjodohan dari Ibunya.

Cin(T)a merupakan kisah cinta segitiga antara seorang pria bernama Cina, dan seorang wanita bernama Annisa serta Tuhan (Allah). Dalam film ini, Cina dan Annisa menjalin kasih dan Allah mengasihi mereka, tetapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai, karena terbentur masalah agama, yaitu perbedaan cara mereka memanggil Tuhan.

Yang saya suka dari film ini adalah film ini bercerita tentang masalah perbedaan memeluk agama yang dibalut dengan masalah percintaan, serta bagaimana kita dapat menerima perbedaan tersebut.
Dua insan yang sedang jatuh cinta itu mengungkapkan berbagai dimensi cinta: agape dan eros, dengan berbagai macam cara. Bahasa cinta yang dimainkan melalui jari telunjuk bergambar wajah manusia, perempuan dan laki-laki itu secara halus mengungkapkan pengalaman eros;  dan kesediaan mereka untuk berbagi, saling membantu dalam kesulitan menjadi perwujudan agape yang mengesankan.

Menurut saya, dialog-dialog dalam film ini bermakna, meskipun dialognya di kemas dengan sederhana, namun mengusik kesadaran masyarakat Indonesia. Sekali lagi, karena film ini mengemas tentang banyak perbedaan, maka dialog cinta antara Cina dan Annisa tersebut mengantar kita untuk secara pribadi menanggapi pertanyaan-pertanyaan kedua insan itu tentang cinta, Tuhan, agama, dan kehidupan nyata. Perbedaan adalah suatu kenyataan, namun Tuhan pun adalah suatu kenyataan. Dan Tuhan itu Allah, dan Allah adalah cinta: “Deus caritas est” (1 Yoh 4:8)


Film ini juga menghadirkan warna Indonesia dengan menyisipkan simbol nasionalisme, seperti Burung Garuda dan bendera Merah Putih. Tak lupa, ciri khas daerah juga di tampilkan seperti boneka wayang, yang merupakan ciri khas Jawa, serta prosesi mandi kembang sebelum menikah yang dilakukan Annisa yang merupakan adat pre-wedding suku Jawa.

1 komentar:

  1. What's In Your Phone Slot Review? - JetXpress
    What's In Your Phone Slot 화성 출장샵 Review? · Best Casino 보령 출장안마 for Live Dealer · Slots App. · 문경 출장샵 Casino · Slots Casino 나주 출장마사지 · 제천 출장안마 Slots Mobile Casino.

    BalasHapus